Sekitar Mekkah

Mekkah

Mekkah atau Makkah al-Mukarramah, Arab: ( مكة المكرمة) atau disingkat dengan Makkah merupakan sebuah kota utama di Arab Saudi.Kota ini menjadi tujuan utama kaum muslimin dalam menunaikan ibadah haji[1], dimana pada kota ini terdapat sebuah bangunan utama yang bernama Masjidil Haram dengan Ka’bah di dalamnya. Dan bangunan Ka’bah ini yang menjadi patokan arah kiblat untuk ibadah salat umat Islam di seluruh dunia. Dan pada kota suci umat Islam ini tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Ka’bah, bangunan yang menyerupai bentuk kubus ini merupakan bangunan pertama di atas bumi yang digunakan untuk menyembah Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran SURAT ALI IMRAN AYAT 96, yang artinya:

“Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat manusia untuk tempat beribadah itulah rumah yang di Bakkah (Mekkah), yang dilimpahi berkah dan petunjuk bagi alam semesta”.

Ka’bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berpupa tembok persegi empat yang terbuat dari batu-batu besar berwarna kebiru-biruan yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekkah. Rumah Allah ini dibangun diatas satu dasar pondasi yang kokoh terbuat dari batu marmer, tebalnya kira-kira 25 cm. Berikut informasi data fisik dari Ka’bah:

  • Tinggi seluruh dinding = 15.00 Meter
  • Lebar dinding Utara = 10.02 Meter
  • Lebar dinding Barat = 11.58 Meter
  • Lebar dinding Selatan = 10.13 Meter
  • Lebar dinding Timur = 10.22 Meter

Geografis

Kota Mekkah terletak sekitar 600 km sebelah selatan kota Madinah, kurang lebih 200 km sebelah timur laut kota Jeddah. Kota ini merupakan lembah sempit yang dikelilingi gunung gunung dengan bangunan Ka’bah sebagai pusatnya 21°25′24″N 39°49′24″E. , kota ini beriklim gurun.

Sejarah perkembangan

Ka’bah yang juga dinamakan Bayt al `Atiq (Arab:بيت ال عتيق, Rumah Tua) adalah bangunan yang dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, surah 14:37 tersirat bahwa situs suci Ka’bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut.

Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun (sekitar 600 M dan belum diangkat menjadi Rasul pada saat itu), bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir bandang yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar Aswad namun berkat penyelesaian Muhammad SAW perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.

Pada saat menjelang Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah. Lingkungan Ka’bah penuh dengan patung yang merupakan perwujudan Tuhan bangsa Arab ketika masa kegelapan pemikiran (jahilliyah) padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan bangsa Yahudi serta ajaran Nabi Musa terhadap kaum Yahudi, Tuhan tidak boleh disembah dengan diserupakan dengan benda atau makhluk apapun dan tidak memiliki perantara untuk menyembahnya serta tunggal tidak ada yang menyerupainya dan tidak beranak dan tidak diperanakkan (Surah Al-Ikhlas dalam Al-Qur’an) . Ka’bah akhirnya dibersihkan dari patung patung ketika Nabi Muhammad membebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah.

Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci ka’bah dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.

MASJIDIL HARAM

 

Sebagai pusat kota Makkah adalah Masjid Al-Haram, dimana didalamnya terdapat Ka’bah sebagai arah kiblat umat Islam pada waktu sholat. Masjid ini mula-mula dibangun secara permanen oleh Sayyidina Umar bin Al Khattab pada tahun 638 M.
Dari masa-ke masa Masjidil Haram selalu mengalami pembaharuan dan perluasan diprakarsai oleh raja-raja Islam yang memberi perhatian terhadap Masjidil Haram.Pembangunan besar-besaran dalam sejarah diprakarsai oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz yang bergelar :”Pelayan Dua Tanah Haram Makkah dan Madinah”.
(Dikatakan Tanah Haram karena Tanah ini diharamkan bagi umat lain, selain umat Muslim).Saat ini luas Masjid Al Haram 328.000 meter persegi dan dapat menampung 730.000 jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah.
Masjid ini melingkari Ka’bah, maka pintunya banyak. Ada 4 pintu utama dan 45 pintu biasa yang biasanya buka 24 jam sehari. Selain itu di masjid inilah salah satu rukun ibadah haji yang wajib dilakukan umat Islam yaitu tawaf, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.
Keistimewaan Masjidil Haram banyak sekali, antara lain : Shalat di masjid ini lebih utama daripada shalat seratus ribu kali di masjid lain. Begitupun berdzikir, berdoa, bersedekah dan beramal baik lainnya.

KA’BAH

Ka’bah merupakan kiblat sholat umat Islam.Ka’bah yang berbentuk kubus ini merupakan bangunan utama di atas bumi yang digunakan utk menyembah Allah SWT.Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, Surat Ali Imran ayat 90, yang artinya :

“Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat manusia untuk tempat beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Mekah), yang dilimpahi berkah dan petunjuk bagi alam semesta”

Ka’bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul ‘Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berupa tembok segi empat yang terbuat dari batu-batu besar yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah. Baitullah ini dibangun di atas dasar fondasi yang kokoh.

Dinding-dinding sisi Ka’bah ini diberi nama khusus yang ditentukan berdasarkan nama negeri ke arah mana dinding itu menghadap. terkecuali satu dinding yang diberi nama “Rukun Hajar Aswad”.

Adapun keempat dinding atau sudut (rukun) tersebut adalah :

– Sebelah Utara Rukun Iraqi (Irak)
– Sebelah Barat Rukum Syam (Suriah)
– Sebelah Selatan Rukun Yamani (Yaman)
– Sebelah Timur Rukun Aswad (Hajar Aswad).

Keempat sisi Ka’bah ditutup dengan selubung yang dinamakan Kiswah. Sejak zaman nabi Ismail, Ka’bah sudah diberi penutup berupa Kiswah ini.
Saat ini Kiswah tersebut terbuat dari sutra asli dan dilengkapi dengan kaligrafi dari benang emas.

Dalam satu tahun Ka’bah ini dicuci dua kali, yaitu pada awal bulan Dzul Hijjah dan awal bulan Sya’ban. Kiswah diganti sekali dalam setahun.

 

SEJARAH KA’BAH

Disebutkan dalam sejarah bahwa pembangunan Ka’bah berlangsung selama 10 generasi. Pembangunan pertama oleh Malaikat yaitu 2000 tahun sebelum nabi Adam diciptakan, sebagai tempat Thawafnya Malaikat di Bumi. Selanjutnya dengan dibantu Malaikat, Nabi Adam AS dihitung sebagai generasi kedua yang membangun kembali Ka’bah, dan melakukan Thawaf. Setelah nabi Adam wafat, dibangun kembali oleh salah seorang putranya yaitu Syits bin Adam, dengan menggunakan tanah dan batu. Ka’bah yang dibangun oleh Syist itu berdiri terus sampai pada zaman Nabi Nuh As, pada zaman Nabi Nuh inilah Ka’bah runtuh karena taufan dan banjir besar.

Sejarah pembangunan Ka’bah sampai generasi ke-3 itu tidak terdapat baik dalam Al-Qur-an maupun Hadits. Pembangunan Ka’bah generasi ke-4 dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan putra beliau yaitu Nabi Ismail AS. Keterangan dimaksud terdapat dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah Ayat 125, yang artinya sbb:

Dan (ingatlah) ketika kami jadikan rumah (Baitullah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia, dan dijadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat.

Dan kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk membersihkan rumahku itu bagi orang-orang yang Tawaf, yang Iktikaf, yang Ruku dan bagi yang Sujud.

 

Ketika Ka’bah yang didirikan oleh Nabi Ibrahim itu runtuh, maka pembangunan yang ke-5 dilakukan oleh suku Amaliqah. Ketika Ka’bah yang dibangun oleh suku Amaliqah itu hancur, pembangunan yang ke-6 oleh suku Jurhum, dimana beliau mengadakan perubahan terhadap ukuran dinding-dinding Ka’bah. Pembangunan ke-8 dilakukan oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW. Generasi ke-9 yang membangun Ka’bah adalah suku Quraisy, Mulai generasi inilah data-data pembangunan mulai dicatat sehingga hal ihwal Ka’bah dapat diikuti melalui tulisan para Sejarawan.

KA’BAH DITINGGIKAN

 

Generasi ke-10 dalam pembangunan Ka;bah adalah Abdullah bin Zubair, waktu itu menjabat Walikota Mekkah. Perubahan besar yang dilakukan oleh Zubair adalah mengubah tinggi Ka’bah, dari 5 meter menjadi 15 meter, diberi atap dan di pojok utara dibuat tangga untuk naik ke atas loteng serta dihiasi dengan emas. Sepuluh tahun kemudian, setelah Abdullah biz Zubair wafat, atas izin khalifah Abdul Malik bin Marwan, pintu Barat yang dibuat  Zubair ditutup dengan alasan untuk mengembalikan bangunan Ka’bah kepada keadaan yang hampir sama dengan yang dibuat oleh Nabi Ibrahim AS.

BANJIR BESAR

Pada tanggal 19 Sya’ban 1039 H turun hujan lebat yang terus menerus mulai jam 2 malam sampai waktu menjelang Asar dan bersambung lagi sampai besoknya, 20 Sya’ban. Banjir besar menggenangi tidak saja Ka’bah dan Masjidil Haram tetapi seluruh rumah penduduk kota Mekkah. Kira-kira seribu orang meninggal waktu itu dan banyak pula binatang ternak yang mati. Sore hari tanggal 20 Sya’ban 1039 (hari Kamis), runtuhlah sebagian dinding Ka’bah, yaitu dinding Syami, sebagian dinding Timur dan Barat serta loteng atap pun ambruk. Menjelang Magrib runtuhlah dinding serambi Ka’bah.

Hiruk pikuk dan ketakutan melanda masyarakat kota Mekkah. Walikota Mekkah waktu itu, Mas’ud bin Idris bin Hasan, segera memerintahkan agar tanggul pintu Ibrahim yang menjadi saluran air Masjidil Haram segera dibuka. Maka air pun mengalir ke hilir kota Mekkah.

Penjaga Ka’bah diperintahkan untuk masuk segera ke dalam Ka’bah dan mengeluarkan semua pelita dan 22 lampu-lampu yang terbuat dari emas. Salah satu diantaranya bertahtakan permata dan mutiara mutu manikam. Barang-barang tersebut diselamatkan dan disimpan di rumah Syekh Jamaluddin Muhammad Abu Qasim Asy Syaibi.

Bangunan Ka’bah

 

Gambar ruang bangun disertai detail ukuran Ka’bah

Pada awalnya bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu serta letak pintu Ka’bah terletak di atas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Pada saat Muhammad SAW berusia 30 tahun dan belum diangkat menjadi rasul, dilakukan renovasi pada Ka’bah akibat bencana banjir. Pada saat itu terjadi kekurangan biaya,[rujukan?] maka bangunan Ka’bah dibuat hanya satu pintu. Adapula bagiannya yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan Ka’bah, yang dinamakan Hijir Ismail, yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi Ka’bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya, karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang dimuliakan oleh bangsa Arab saat itu.

Nabi Muhammad SAW pernah mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali Ka’bah karena kaumnya baru saja masuk Islam, sebagaiman tertulis dalam sebuah hadits perkataannya: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan aku turunkan pintu Ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail ke dalam Ka’bah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.

Ketika masa Abdullah bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan itu dibangun kembali menurut perkataan Nabi Muhammad SAW, yaitu diatas pondasi Nabi Ibrahim. Namun ketika terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan penguasa daerah Syam (Suriah, Yordania dan Lebanon sekarang) dan Palestina, terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan Syam. Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka’bah berdasarkan bangunan di masa Nabi Muhammad SAW dan bukan berdasarkan pondasi Nabi Ibrahim. Ka’bah dalam sejarah selanjutnya beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan karena umur bangunan.

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka’bah sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad SAW. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para penguasa sesudah beliau. Sehingga bangunan Ka’bah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.

PENENTUAN ARAH KIBLAT

Untuk menentukan arah kiblat dengan cukup presisi dapat dilakukan dengan merujuk pada kordinat Bujur / Lintang dari lokasi Ka’bah di Mekkah terhadap masing-masing titik lokasi orientasi dengan menggunakan perangkat GPS. Untuk kebutuhan tersebut dapat digunakan hasil pengukuran kordinat Ka’bah berikut sebagai referensi penentuan arah kiblat. Lokasi Ka’bah,

  • 21°25‘21.2“ Lintang Utara
  • 039°49‘34.1“ Bujur Timur
  • Elevasi 304 meter (ASL)

Adapun cara sederhana dapat pula dilakukan untuk melakukan penyesuaian arah kiblat. Pada saat-saat tertentu dua kali satu tahun, Matahari tepat berada di atas Mekkah (Ka’bah). Sehingga jika pengamat pada saat tersebut melihat ke Matahari, dan menarik garis lurus dari Matahari memotong ufuk/horizon tegak lurus, pengamat akan mendapatkan posisi tepat arah kiblat tanpa harus melakukan perhitungan sama sekali, asal pengamat tahu kapan tepatnya Matahari berada di atas Mekkah. Tiap tahun, Matahari berada pada posisi tepat di atas Mekkah pada tanggal 28 Mei pukul 16:18 WIB dan tanggal 16 Juli pukul 16:27 WIB.

Bumi berputar pada sumbu rotasinya dengan periode 24 jam. Bagi pengamat yang berada di Bumi, efek yang diamati dari gerak rotasi adalah benda-benda langit terlihat seolah-olah berputar mengelilingi Bumi dengan arah gerak berlawanan dengan arah rotasi Bumi. Bintang-bintang terlihat bergerak dari timur ke barat. Ini mirip dengan gerak pohon-pohon yang diamati saat mengendarai mobil, seolah-olah pohon-pohon itu bergerak berlawanan arah dengan gerak mobil. Efek rotasi ini menyebabkan pengamat mengamati benda-benda langit (termasuk Matahari) terbit di timur dan terbenam di barat.

Sementara itu, Bumi mengedari Matahari dengan periode 1 tahun. Akibatnya, relatif terhadap bintang-bintang pada bola langit, Matahari sendiri terlihat berubah posisinya dari hari ke hari, dan setelah satu tahun, kembali ke posisi semula. Matahari bergerak kurang lebih ke arah timur. Namun karena bidang edar Bumi (ekliptika) tidak sebidang dengan bidang rotasi Bumi (Ekuator langit), maka gerak Matahari tadi pun tidak tepat ke arah timur, tetapi membentuk sudut 23,5º, sesuai dengan besar sudut antara ekliptika dan ekuator langit.

Dari Bumi, pengamat melihat seolah-olah Matahari mengitari Bumi. Pengamat melihat Matahari mengitari Bumi pada bidang ekliptika. Karena Bidang ekliptika membentuk sudut terhadap bidang ekuator Bumi, dalam interval satu tahun itu, Matahari pada satu saat berada di utara ekuator, dan disaat yang lain berada di selatan ekuator. Matahari bisa sampai sejauh 23,5º dari ekuator ke arah utara pada sekitar tanggal 22 Juni. Enam bulan kemudian, sekitar tanggal 22 Desember, Matahari berada 23,5º dari ekuator ke arah selatan. Antara 22 Juni dan 22 Desember, Matahari bergerak ke arah selatan ekuator, bergerak relatif terhadap bintang-bintang. Sedangkan antara tanggal 22 Desember dan 22 Juni, Matahari bergerak ke arah utara ekuator.

Karena gerak tahunannya tersebut dikombinasikan dengan gerak terbit terbenam Matahari akibat rotasi Bumi, maka Matahari menyapu daerah-daerah yang memiliki lintang antara 23,5º LU dan 23,5º LS. Pada daerah-daerah di permukaan Bumi yang memiliki lintang dalam rentang tersebut, Matahari dua kali setahun akan berada kurang lebih tepat di atas kepala. Karena Mekkah memiliki lintang 21º 26′ LU, yang berarti berada dalam daerah yang disebutkan di atas, maka dua kali dalam setahun, Matahari akan tepat berada di atas kota Mekkah. Kapan hal ini terjadi, bisa dilihat dalam almanak, misalnya Astronomical Almanac.

Penentuan arah kiblat dengan cara melihat langsung posisi Matahari seperti yang disebutkan di atas (pada tanggal-tanggal tertentu yang disebutkan di atas), tidaklah bisa dilakukan di semua tempat. Sebabnya karena bentuk Bumi yang bundar. Tempat-tempat yang bisa menggunakan cara di atas untuk penentuan arah kiblat adalah tempat-tempat yang terpisah dengan Mekkah kurang dari 90º. Pada tempat-tempat yang terpisah dari Mekkah lebih dari 90º, saat Matahari tepat berada di Mekkah, Matahari (dilihat dari tempat tersebut) telah berada di bawah horizon. Misalnya untuk posisi pengamat di Bandung, saat Matahari tepat di atas Mekkah (tengah hari), dilihat dari Bandung, posisi Matahari sudah cukup rendah, kira-kira 18º di atas horizon. Sedangkan bagi daerah-daerah di Indonesia Timur, saat itu Matahari telah terbenam, sehingga praktis momen itu tidak bisa digunakan di sana. Bagi tempat-tempat yang saat Matahari tepat berada di atas Ka’bah, Matahari telah berada di bawah ufuk/horizon, bisa menunggu 6 bulan kemudian. Pada tiap tanggal 28 November 21:09 UT (29 November 04:09 WIB) dan 16 Januari 21:29 UT (17 Januari 04:29 WIB), Matahari tepat berada di bawah Ka’bah. Artinya, pada saat tersebut, jika pengamat tepat menghadap ke arah Matahari, pengamat tepat membelakangi arah kiblat. Jika pengamat memancangkan tongkat tegak lurus, maka arah jatuh bayangan tepat ke arah kiblat.

RUKUN-RUKUN KA’BAH

 

Rukun yang dimaksud disini adalah rukun yang mengandung arti harfiahnya “Sudut atau Pojok”. Sudut yang berjumlah 4 buah tersebut yang terdapat pada bangunan Ka’bah, merupakan rukun yang diutamakan di dalam manasik Haji. Rukun tersebut, yaitu; Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad disebut ‘Dua Rukun Yamani”, karena tempat kedua rukun ini menghadap Yaman. Adapun dua rukun lainnya adalah Rukun Iraqi dan Rukun Syam yang disebut sebagai “Dua Rukun Syamiani” karena keduanya mengarah ke negeri Syam yang sekarang meliputi semua negara yang terletak dipantai Timur Laut Tengah, seperti Yordania, Palestina, Syria dan Lebanon.

 

 

Air Zamzam

 Air Zamzam berasal dari mata air Zamzam yang terletak di bawah tanah, sekitar 20 meter di sebelah Tenggara Ka’bah. Mata air atau Sumur ini mengeluarkan Air Zamzam tanpa henti. Diamanatkan agar sewaktu minum air Zamzam harus dengan tertib dan membaca niat. Setelah minum air Zamzam kita menghadap Ka’bah.

Sumur Zamzam mempunyai riwayat yang tersendiri. Sejarahnya tidak dapat dipisahkan dengan isteri Nabi Ibrahim AS, yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail AS. Sewaktu Ismail dan Ibunya hanya berdua dan kehabisan air untuk minum, maka Siti Hajar pergi ke Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali.Namun tidak berhasil menemukan air setetespun karena tempat ini hanya merupakan lembah pasir dan bukit-bukit yang tandus dan tidak ada air dan belum didiami manusia selain Siti Hajar dan Ismail.

Mata Air Zamzam

SEJARAH ZAMZAM


Tentang Zamzam ini sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari Isteri Nabi Ibrahim AS yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail AS. Waktu Ismail dan ibunya ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di Mekkah, mereka kehabisan air untuk diminum. Maka Siti Hajar pergi ke Bukit Shafa dan Marwah kalau-kalau di sana ada air. Siti Hajar berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali. Namun tidak berhasil menemukan setetes airpun. Tiba-tiba ia mendengar suara. Maka Hajar pun berkata;

“Saya mendengar suaramu, tolonglah aku jika engkau punya kebaikan”.

Malaikat Jibril menampakkan diri dan melalui hentakan kaki Ismail, serta merta memancarkan air dari bumi.

Siti Hajar membedung air itu karena melimpah-limpah serta berkata zam…zam…zam yang dimaksudnya berkumpul-berkumpul. Air inilah yang kemudian terkenal dengan nama “Sumur Zamzam” yang diriwayatkan oleh At Thabarani dalam kitab “Al Mu’jamul Kabir” dari olej Ibnu Abbas RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, tentang air zamzam yang artinya;

“Sebaik-baik air di permukaan bumi ialah air zamzam, padanya terdapat makanan yang menyegarkan dan padanya terdapat penawar bagi penyakit.
Setelah beberapa hari Siti Hajar dan anaknya tinggal di dekat mata air itu, datanglah kepada dua orang dari suku Jurhum yang mewakili bangsanya untuk berkenalan sekaligus minta izin untuk memanfaatkan air itu dan kalau boleh akan tinggal di sekitarnya.

Maka Siti Hajar dengan senang hati menerima mereka dan akhirnya menjadi sekumpulan masyarakat baru di sekitar mata air zamzam dan seterusnya menjadi sebuah kota yang amat ramai. Dalam sejarahnya Zamzam ini sudah berkali-kali digali, baik karena tertimbun maupun karena perbaikan, antara lain yang dilakukan oleh Abdul Muthalib. kakek Rasulullah pada zaman jahiliyah (sebelum Islam) dan yang terakhir adalah yang dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi pada awal tahun 1980 M.

Karena kehadirannya tidak terlepas dari keajaiban yang dipertontonkan oleh Allah SWT sebagai Mukjizat kepada umat manusia melalui Nabi Ismail AS bersama ibunya Siti Hajar, maka sangat banyak keistimewaan air sumur Zamzam ini. Dilihat dari fungsinya jelas bahwa Allah memang bermaksud menyediakan sumber air di tengah tengah gunung batu dan padang pasir yang gersang, sebagai konsekuensi dari perintahnya melalui Nabi Ibrahim AS untuk mengundang sebanyak-banyaknya umat manusia datang ke Baitullah.

Diamanatkan agar sewaktu meminum air zamzam harus dengan tertib dan membaca niat. Setelah minum air zamzam kita menghadap ke Ka’bah dengan mengangkat kedua tangan sambil berdo’a memohon pada Allah sbb:

Bismillahirahmanirahim
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rezeki yang luas dan sembuh dari segala penyakit.
KEISTIMEWAAN ZAMZAM
Berikut ini beberapa keistimewaan air zamzam:

  1. Meminum air Zamzam menjadi saah satu amalan ibadah, yaitu paling tidak dengan niat mengikuti anjuran Rasulullah.
  2. Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abbas; Aku pernah menyiapkan air Zamzam untuk Rasulullah, kemudian Beliau meminumnya sambil berdiri.
  3. Makruh hukumnya apabila digunakan untuk mencuci najis atau dipakai untuk membersihkan hadats besar.
  4. Disunnahkan Jama’ah Haji dan Jama’ah Umrah membawanya pulang ke nerginya. Rasulullah adalah orang yang pertama yang membawa keluar atau membawa pulang air Zamzam yaitu ketika beliau kembali ke Madinah selesai menunaikan Ibadah Haji.
  5. Mata airnya tidak pernah kering walaupun berjuta manusia meminumnya setiap hari terutama pada musim Haji. Bahkan sekarang dengan peralatan canggih, orang-orang di Masjid Nabawi dapat minum zamzam setiap saat.
  6. Pada waktu Rasulullah akan melakukan Sa’i, Beliau minum air zamzam sampai kenyang kemudian menyiram kepalanya dengan air itu.
  7. Banyak orang mengguyur atau membasahi kain Ihram, kemudian direntang tanpa diperas agar kering sendiri dan katanya akan dipakai kafan kalau meninggal nanti.

KEUTAMAAN ZAMZAM
Dari segi keutamaanynya, sebagian ulama telah mengumpulkan berbagai fadilah dan keutamaan zamzam, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. AIR SURGA (maa’ul-jannah), Artinya, air yang penuh berkah dan manfaat, seperti air surga.
  2. NIKMAT ALLAH, salah satu nikmat Allah bagi para Jama’ah Haji yang langsung bisa merasakan nikmatnya air ditengah-tengah padang pasir.
  3. PENCUCI KALBU Air pencuci kalbu Nabi Muhammad SAW ketika Jibril membasuh hati Muhammad SAW dengan air Zamzam.
  4. PENUH BERKAH, Karena Rasulullah SAW senang meminumnya dan tangannya yang penuh berkah pernah dicelupkan ke sumur Zamzam.
  5. MENGENYANGKAN, Air yang mengenyangkan dan menghilangkan dahaga “Air Zamzam membuat rasa kenyang dan menghilangkan rasa haus”.
  6. OBAT PENYAKIT, Air penyembuh penyakit, baik menyembuhkan penyakit jiwa atau batin maupun penyakit jasmani. Rasulullah SAW menyebutnya “mengobati penyakit”. Banyak kisah dan riwayat tentang hal ini, sebagai bukti kebenaran dan hadits di atas.

ABADI, Tidak kering hingga hari Kiamat, karena ia menjadi bukti keagungan dan kebenaran Allah.

MAQAM IBRAHIM

       
Pintu Bani Syaibah di sebelah Timur Laut Ka’bah adalah tempat masuk resmi ke tempat Tawaf. Antara pintu itu dan Ka’bah terdapat sebuah rumah kecil berkubah hijau, berdinding terali besi. Inilah Maqam Ibrahim, tempat utama mengerjakan shalat (tempat Imam berdiri untuk semua macam shalat Jama’ah di Masjidil Haram).

Maqom Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat sebagian orang. Maqom Ibrahim adalah batu pijakan pada saat Nabi Ibrahim membangun Ka’bah. Letak Maqom Ibrahim ini tidak jauh, hanya sekitar 3 meter dari Ka’bah dan terletak di sebelah timur Ka’bah.

Saat ini Maqom Ibrahim seperti terlihat pada foto di atas. Di dalam bangunan kecil ini terdapat batu tempat pijakan Nabi Ibrahim seperti dijelaskan di atas. Pada saat pembangunan Ka’bah batu ini berfungsi sebagai pijakan yang dapat naik dan turun sesuai keperluan nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim masih nampak dan jelas dilihat.

Atas perintah Khalifah Al Mahdi Al Abbasi, di sekeliling batu Maqom Ibrahim itu telah diikat dengan perak dan dibuat kandang besi berbentuk sangkar burung.

 

MULTAZAM

       
Multazam merupakan dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat ini merupakan tempat utama dalam berdoa, yang dipergunakan oleh jamah Haji dan Umroh untuk berdoa/ bermunajat kepada Allah SWT setelah selesai melakukan Tawaf.

Saat bermunajat di depan Multazam ini, Jarang orang tidak meneteskan air mata di sini, terharu karena kebesaran Illahi.Multazam ini insya Allah merupakan tempat yang mustajab dalam berdoa, insya Allah doa dikabulkan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Antara Rukun Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah, yang disebut Multazam. Tidak seorangpun hamba Allah yang berdoa di tempat ini tanpa terkabul permintaannya”

HIJIR ISMAIL

       
Hijir Ismail, berdampingan dengan Ka’bah dan terletak di sebelah utara Ka’bah, yang dibatasi oleh tembok berbentuk setengah lingkaran setinggi 1,5 meter. Hijir Ismail itu pada mulanya hanya berupa pagar batu yang sederhana saja. Kemudian para Khalifah, Sultan dan Raja-raja yang berkuasa mengganti pagar batu itu dengan batu marmer.

Hijir Ismail ini dahulu merupakan tempat tinggal Nabi Ismail, disitulah Nabi Ismail tinggal semasa hidupnya dan kemudian menjadi kuburan beliau dan juga ibunya.

Berdasarkan kepada sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian dari Hijir Ismail itu adalah termasuk dalam Ka’bah. Ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Aisyah r.a. yang berbunyi : ‘Dari ‘Aisyah r.a. katanya; “Aku sangat ingin memasuki Ka’bah untuk melakukan sholat di dalamnya. Rasulullah s.a.w. membawa Siti ‘Aisyah ke dalam Hijir Ismail sambil berkata ” Sholatlah kamu di sini jika kamu ingin sholat di dalam Ka’bah, karena ini termasuk sebagian dari Ka’bah.

Sholat di Hijir Ismail adalah sunnah, dalam arti tidak wajib dan tidak ada kaitan dengan rangkaian kegiatan ibadah Haji atau ibadah Umroh.

MATWAF

Bagian tempat Thawaf di sekeliling Kabah diberi lantai Marmar. Hanya sebatas marmar inilah ukuran luas Masjidil Haram di masa Nabi Muhammad. Tempat ini sekarang disebut Matwaf, atau tempat Thawaf.

 

HAJAR ASWAD

 

       
Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam yang berada di sudut Tenggara Ka’bah, yaitu sudut dimana tempat Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan batu yang diturunkan Allah SWT dari Surga melalui malaikat Jibril.

Hajar Aswad berupa kepingan batu yang terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan direkat dengan lingkaran perak.

Dalam salah satu riwayat Bukhari-Muslim, diterangkan bahwa Sayyidina Umar, sebelum mencium Hajar Aswad mengatakan, “Demi Allah, aku tahu bahwa kau adalah sebuah batu yang tidak dapat berbuat apa-apa.Kalau aku tidak melihat Rasul SAW mencium-mu, tidak akan aku mencium-mu:.

Jadi mencium Hajar Aswad bukanlah suatu kewajiban bagi umat Islam, tapi merupakan anjuran dan sunnah hukumnya.Maka kalau keadaan tidak memungkinkan karena penuhnya orang berdesakan, sebaiknya urungkan saja niat untuk mencium atau mengusap batu ini.

Hajar Aswad adalah batu hitam yang terletak di sudut sebelah tengah Ka’bah, yaitu sudut dari mana Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan jenis batu ruby yang diturunkan Allah dari Surga melalui Malaikat Jibril. Hajar Aswad yang diyakini aslinya berupa sebongkah batu kini karena satu dan lain hal telah terpecah menjadi delapan keping yang terpaksa digabung kembali dan diikiat dengan lingkaran perak.

Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus dikecup, dicium dan diusap-usap oleh milyaran manusia sejak nabi Adam, yaitu oleh para jamaah yang datang ke Baitullah saat haji atau umroh. Sebagai informasi, bahwa panggilan haji sudah berlangsung sejak Nabi Adam AS. Bahkan masyarakat jahilliyah yang musyrik dan penyembah berhala pun pada waktu itu masih secara setia melayani Jama’ah Haji yang datang setiap tahun dari penjuru belahan dunia.

Nenek moyang Rasulullah SAW, termasuk kakeknya Abdul Muthalib adalah para ahli waris dan pengurus kabah atau secara spesifik adalah penanggung jawab air Zamzam yang selalu menjadi primadona dan incaran para jamaah Haji dan para peziarah. Hadist shahih riwayat Tirmidzi dan Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda:

“Ruku (Hajar Aswad) dan Maqam (Batu/Maqam Ibrahim dua batu ruby dari Surga yang dihilangkan cahayanya oleh Allah.  Kalau cahayanya tidak dihilangkan, maka dua batu ruby tersebut mampu menyinari dunia dari Barat sampai Timur”.

Satu Riwayat Shahih lainnya mengatakan:

“Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Batu/Maqam Ibrahim) berasal dari batu-batu ruby Surga yang kalau tidak karena sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara Timur dan Barat. Setiap orang yang sakit yang memeganggnya akan sembuh dari sakitnya”.

Hadits shahih riwayat Imam Baihaqie dan Ibnu ‘Abas RA, bahwa Rasul SAW bersabda:

“Allah akan membangkitkan Al-hajar (Hajar ASwad) pada Hari Kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar”.

Hadist Siti Aisyah RA mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda:

“Nikmatilah (pegangglah) Hajar Aswad ini sebelum di angkat (dari bumi). Ia berasal dari Surga dan setiap sesuatu yang keluar dari Surga akan kembali ke Surga sebelum Kiamat”.

 

Berdasarkan bunyi hadits-hadits itulah antara lain maka setiap jamaah haji baik yang mengerti maupun yang tidak mengerti tetapi ikut-ikutan mengerti, akan senantiasa menjadikan Hajar Aswad sebagai target utama. Saya harus menciumnya, mencium Hajar Aswad!

Tapi apa bisa? Dua juta Jamaah, datang di musim Haji secara bersamaan dan antri untuk keperluan dan target yang sama. Begitu padatnya, maka Anda harus rela dan ikhlas untuk hanya bisa memberi kecupan jarak jauh sembari melafazkan Basmalah dan Takbir;

Bismillah Wallahu Akbar. (Hadits Riwayat Ahmad)

Hadist tersebut mengatakan bahwa disunatkan membaca do’a ketika hendak Istilam (mengusap) atau melambainya pada permulaan Tawaf atau pada tiap pusingan, sebagai mana diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA.

“Bahwa Nabi Muhammad SAW datang ke Kabah lalu diusapnya Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar”.

 

RIWAYATNYA

Dalam riwayat lanjutannya dikisahkan bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa waktu lamanya dan secara ajaib ditemukan kembali oleh nabi Ismail AS ketika ia berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang maish sedikit kurang. Batu yang ditemukan inilah yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim AS, yang serta merta sangat gembira dan tak henti-hentinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat Ka’bah, batu itu tak segera diletakkan di tempatnya. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS menggotong batu itu sambil memutari Ka’bah tujuh putaran.

 

DIANGKUT DENGAN SORBAN MUHAMMAD

Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M). yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena keempat kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang pada pendapat dan kehendak masing-masing untuk mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ke tempatnya semula karena pemugaran Ka’bah sudah selesai.

Akhirnya muncullah usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Mkhzumi yang mengatakan:

“Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk Ka’bah pada hari ini”.

Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang pertama masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum pada masa itu bahwa akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya). Muhammad muda, yang organ tubuhnya yaitu hatinya pernah dibersihkan lewat operasi Malaikat, memang sudah dikenal luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa jawaban dan tindakan Muhammad terhadap usul itu?

Muhammad menuju tempat penyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu di tengah-tengah sorban kemudian meminta satu orang wakil dan masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya ke sudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ke tempatnya semula.

Kisah lain yang sangat penting adalah yang terjadi pada musim Haji tahun 317 H. Pada saat itu dunia islam sangat lemah dan bercerai-berai sehingga kesempatan itu dimanfaatkan oleh Abu Tahir Al Qurmuthi seorang kepala salah satu suku di Jazirah Arab bagian Timur untuk merampas Hajar Aswad. Dengan 700 anak buah bersenjata lengkap mendobrak Masjid Al Haram dan membongkar Ka’bah secara paksa lalu merebut Hajar Aswad dan mengangkutnya ke negaranya yang terletak di kawasan Teluk Persia sekarang.

Dalam kitab Ikhbarul-Kiraam diterangkan bahwa ketika Abdullah bin Akim menerima batu dari pemimpin suku Qurmuth itu langsung dimasukkan ke dalam air dan tenggelam, kemudian diangkat dan dibakar ternyata pecah, maka ia menolak batu itu dan dinyatakan palsu. Dengan tenang pemimpin Quraisy itu memberi yang kedua yang sudah dilumuri minyak wangi dan dibungkus dengan kain sutra yang sangat cantik. Namun Abdullah tetap menguji keasliannya dengan cara seperti yang pertama, ternyata juga palsu karena tenggelam di air dan pecah oleh api.

Akhirnya pemimpin Qurmuth memberikan yang betul-betul asli. Tapi oleh Abdullah batu inipun diperlakukan seperti yang sebelumnya, dan sungguh aneh tapi nyata bahwa batu yang ketiga itu tidak tenggelam malah terapung di atas air, ketika dibakar tidak pecah dan bahkan tidak terasa panas. Maka Abdullah dengan puas mengatakan: “Nah inilah dia, batu kita!”

Dengan terheran-heran pemimpin Qurmuth bertanya, “Darimana anda mendapat ilmu ini?”

Abdullah menjawab; “Nabi pernah mengatakan, Hajar Aswad akan menjadi saksi tentang siapa-siapa yang pernah menyalaminya dengan niat baik atau tidak baik, Hajar Aswad juga tidak akan tenggelam di dalam air dan tidak panas dalam api”.

“Inilah agama yang benar-benar tuntunan dari Allah”. demikian pemimpin Qurmuth itu berkomentar”.

Namun, kepada pemimpin Qurmuth ini Allah menurunkan siksa berupa penyakit yang sangat sulit diobati yaitu semacam lepra yang berlangsung lama dan tidak dapat disembuhkan. Akhirnya semua persendiannya berlepasan dan matilah dia.

 

SHAFA – MARWAH

 

Shafa dan Marwah merupakan dua bukit yang terletak dekat dengan Ka’bah.

Sejarah Shafa – Marwah tidak dapat dipisahkan dengan isteri Nabi Ibrahim AS, yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail AS. Sewaktu Ismail dan Ibunya hanya berdua dan kehabisan air untuk minum di lembah pasir dan bukit yang tandus, Siti Hajar pergi mencari air pulang pergi dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali.

Saat kali ketujuh (terakhir). Ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar oleh Siti Hajar suara yang mengejutkan, lalu ia menuju ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya, bahwa suara itu ialah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya. Air itu adalah air Zamzam.

MAQAM TEMPAT IMAM

Tidak seberapa jauh dari dinding Hajar Aswad terdapat sebuah rumah kecil tempat Sumur Zamzam yang sekarang berada di bawah lantai dan di sebelah atasnya adalah Maqam Imam Syafi’i. Tiga Maqam lagi yaitu Maqam Imam Hanafi terletak disebelah Barat, Maqam Imam Hambali terletak di sebelah Tenggara dan Maqam Imam Maliki di sebelah Utara. Dahulu tempat-tempat ini dipergunakan oleh Imam tiap Mazhab pada waktu shalat lima waktu, sehingga tiap waktu shalat diadakan 4 kali berjamaah menurut mazhab masing-masing. Cara bermazhab ini sekarang telah ditiadakan.
 

ARAFAH

Arafah adalah daerah terbuka dan luas di sebelah timur luar kota suci umat Islam di Mekkah, Arab Saudi. Di padang yang luas ini, pada satu hari (siang hari) tanggal 9 Dzulhijjah pada penanggalan Hijriyah berkumpullah lebih dari dua juta umat Islam dari berbagai pelosok dunia untuk melaksanakan inti ibadah haji, ibadah Wukuf.

Ada beberapa tempat utama di Arafah yang selalu dijadikan kunjungan jamaah haji:

  • Jabal Rahmah, sebuah tugu peringatan yang didirikan untuk mengenang tempat bertemunya nenek moyang manusia Nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi.
  • Masjid Namira

JABAL RAHMAH

 

DARI kaca mobil, di Padang Arafah, ‘tugu’ pertemuan Nabi Adam AS dengan Siti Hawa terlihat ambak. Hati bergetar. Disinikah ‘Manusia Surga’ asal muasal diri bertemu setelah menerima hukuman diturunkan ke Bumi? 200 ratus tahun berpisah, bertemu di puncak bukit tentu sangat mengharubiru. Adam, konon dari India, Hawa ‘menunggu’ belahan jiwa, dan bersua. Imajinasi terbuai membayangkan.

 

MIQOT

Miqot terbagi menjadi dua, yakni  berdasarkan waktu dan tempat. Kalau menurut waktu di mulai dari awal bulan Syawal dan diakhiri pada malam 10 Dzulhijah. Dan boleh melakukan ihram, sehari sebelumnya.

Adapun berdasarkan tempat, terdapat 5 titik miqot, yakni miqot Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah, Miqot Al Juhfah untuk penduduk Suria,  miqot Qarn Al Manazi untuk penduduk Najd, miqot Yalamlam untuk penduduk Yaman, dan miqot Dzat Irq untuk penduduk Irak.

Bila mengambil miqot atau berniat umroh di Masjid Bir Ali maka dinamakan miqot Dzul Hulaifah. Masjid Bir Ali sebenarnya memiliki nama asli Masjid As-Syajarah atau Masjid Pohon karena masjid ini dibangun di tempat pohon yang pernah disinggahi nabi dan berteduh di bawahnya.  Jarak dari Madinah untuk mencapai Masjid ini hanya 7 kilometer. Namun jika seandainya miqot tidak dilaksanakan, maka jamaah akan mendapat dam atau denda dan umrohnya batal. Dari tempat ini pula jamaah berganti pakaian hanya mengenakan ihram.

Setelah menempuh perjalanan 5 jam, jamaah akan memasuki kota Mekkah, negeri yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya, serta kiblatnya kaum Muslim. Allah SWT telah menjadikan Mekkah Al Mukaromah sebagai tanah haram yang dihormati, sejak langit dan bumi diciptakan. Kota Mekkah juga dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW bahwasanya jika manusia berada di dalam tanah haram akan merasa aman. Bahkan rasa aman ini juga dimiliki oleh pepohonan dan tumbuh-tumbuhan dengan larangan memotongnya,  burung-burung pun tidak boleh diusir.

 

MUZDALIFAH

Muzdalifah terletak antara Arafah dan Mina. Di Muzdalifah ini jamaah haji bermalam (mabit) dan mengambil 70 atau 49 butir batu kecil untuk persiapan lempar jumroh di Mina. Sholat Subuh dilaksanakan berjamaah di Muzdalifah.

Setelah sholat subuh, meninggalkan Muzdalifah menuju Mina untuk melakukan melempar jumroh. Bagi orang tua dan yang lemah/ sakit boleh meninggalkan Muzdalifah pada malam hari setelah lewat tengah malam baru menuju Mina.

Setelah matahari terbenam (mulai masuk tanggal 10 Dzulhijah), dari Arafah berangkat ke Muzdalifah. Sholat Maghrib dan Isya dikerjakan di Muzdalifah dengan cara jama’ takhir qashar.

Muzdalifah terletak antara Arafah dan Mina. Di Muzdalifah ini jamaah haji bermalam (mabit) dan mengambil 70 atau 49 butir batu kecil untuk persiapan lempar jumroh di Mina. Sholat Subuh dilaksanakan berjamaah di Muzdalifah.

Setelah sholat subuh, meninggalkan Muzdalifah menuju Mina untuk melakukan melempar jumroh. Bagi orang tua dan yang lemah/ sakit boleh meninggalkan Muzdalifah pada malam hari setelah lewat tengah malam baru menuju Mina.

MINA

Mina adalah salah satu tempat rangkaian ibadah haji, dikota itulah terdapat tiga jamarat (jumrah) yaitu Ula, Wusta, dan Aqobah.

Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer dari kota Mekkah, Arab Saudi. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lontar jumrah dalam ibadah haji tahunan, yang berlangsung sejak matahari terbit hingga terbenam pada hari terakhir ibadah haji. Selain itu, di Mina juga terdapat tenda-tenda yang menjadi akomodasi bagi ratusan ribu jemaah haji.

Mina adalah salah satu tempat rangkaian ibadah haji, dikota itulah terdapat tiga jamarat (jumrah) yaitu Ula, Wusta, dan Aqobah.

Lokasi jamarat sudah seringkali direnovasi oleh pemerintah arab saudi karena tempat ini rawan terjadi kecelakaan karena jamaah berebut untuk melempar jamarat.

Musim haji tahun 2009 diharapkan renovasi jamarat telah selesai, sekarang jamaah akan lebih leluasa saat melakukan ibadah lempar jamarat, karena selain tugu jamarat dibikin lebih lebar, juga dibuat lima lantai bagi jamaah yang akan

Mina merupakan lokasi di Tanah Haram Makkah (Tanah yang diharamkan bagi orang selain Muslim). Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal disini sehari semalam sehingga dapat melakukan sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah. Amalan seperti ini dilakukan Rasulullah SAW saat berhaji dan hukumnya sunnah. Artinya tanggal 9 Dzulhijah sebelum ke Arafah, tidak wajib bermalam di Mina.

Jamaah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan Wukuf di Arafah. Jamaah haji ke Mina lagi karena para jamaah haji akan melempar jumroh. Di Mina ini, pada malam hari tidur dan pada siang hari melempar jumroh. Yaitu tanggal 10,11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau tanggal 10,11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.Untuk tanggal di atas, amalan bermalam dan melempar jumroh merupakan amalan wajib haji (yang jika tidak dilakukan, harus membayar dam atau denda).

Pada hari-hari biasa di Mina kosong tidak berpenduduk, walaupun terlihat bangunan permanen. Namun pada tanggal 10 Dzulhijah dan beberapa hari sebelumnya dipadati para jamaah haji.

Tanah di Mina tidak boleh dimiliki oleh perorangan, yang boleh adalah menempati untuk keperluan ibadah saja.Sesuai dengan riwayat isteri nabi, Aisyah , “Ya Rasullullah SAW, perlukah kami buatkan di Mina untuk anda berteduh?” , rasul menjawab ,”Jangan, sesungguhnya Mina adalah tempat duduk orang yang lebih dahulu datang”.

Tempat atau lokasi melempar jumroh terdapat di Mina, yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula.

Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid dimana Rasulullah SAW melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah Haji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: